Tradisi Suroan di Metro Kibang

2 Oktober 2016 03:44:53
Post

GAJAHLAMTIM.COM-- Awal bulan Suro atau akrab disebut suroan merupakan sebuah tradisi yang telah diadakan masyarakat secara turun-temurun dalam memperingati bergantinya tahun dalam sistem kalender jawa maupun hijriyah.

Berbicara bulan suro dalam penanggalan Jawa, tidak bisa dilepaskan dari sistem penanggalan hijriyah, karena istilah suro sebenarnya diambil dari  bahasa arab asyura. Banyak peristiwa penting terjadi pada bulan ini sejak zaman para nabi. 1 Muharam adalah hari diberlakukannya kalender hijriyah oleh Khalifah Umar bin Khotob. Dimana perhitungannya memakai garis edar bulan. Sementara kalender Masehi, memakai rotasi matahari.

Bagi masyarakat, memperingati pergantian tahun atau yang lebih sering disebut suroan merupakan tradisi dan budaya sebagai lambang rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Esa terhadap semua nikmat yang telah diberikan.

Di Desa Margototo, Kecamatan Metro Kibang, Lampung Timur, tradisi suroan atau memperingati tahun baru hijriyah tetap dilestarikan, yaitu dengan mengadakan kenduri di tiap perempatan atau persimpangan jalan.

Tradisi turun temurun ini tetap dilakukan, Sabtu, 1 Oktober 2016 malam. Warga dengan sukarela membuat makanan lengkap dengan lauk pauk yang kemudian dibungkus daun pisang (takir), dibawa ke perempatan dan didoakan bersama untuk memohon kebaikan pada Tuhan.

Tidak lupa mereka juga membuat makanan yang disebut golong buceng yang berbentuk seperti tumpeng mini. Tak ketinggalan juga makanan yang diberi nama jenang tolak. Bubur beras yang dibubuhi gula merah sebagai perlambang penolakan atas bala musibah yang akan menimpa serta untuk minta keselamatan dan kebaikan kepada Tuhan.

Itulah tradisi masyarakat desa kami, Desa Margototo Kecamatan Metro Kibang, Lampung Timur dalam memperingati tahun baru Islam yang disebut, suroan. Selamat tahun baru 1 Suro/Muharam 1438 H. (*)


Penulis Yuli Arianto

Penggiat Maiyah Dusun Ambengan