Sensasi Rasa Mie Singkong Asal Lamtim di Bandarlampung

3 Agustus 2016 23:00:50
Post

GAJAHLAMTIM.COM- Mie, bagi masyarakat di perkotaan bukan sekadar makanan pendamping. Banyak yang sudah menjadikannya sebagai makanan pokok, terutama pada momen dan pada situasi tertentu. Termasuk di Kota Bandarlampung.

Kecenderungan itu yang dimanfaatkan banyak pengusaha membuka warung mie. Dari yang pakai gerobak sampai di gedung megah berstandar restoran mewah, mie sudah dikemas dan tersedia dengan beragam rasa serta masakan. Produsen mie yang selama ini ada di Kota Bandarlampung, didominasi penguasaha asal Telukbetung. Berbagai jenis mie, telah tersedia di Bandarlampung. 

Di tengah ketatnya persaingan warung dan restoran yang menu utamanya olahan mie, ternyata tak membuat Didit gentar ikut meramaikan pasar mie. Pengusaha asal Sukadana, Lampung Timur (Lamtim) ini mencoba peruntungan dengan inovasi berbagai masakan mie.

Salah satu menu andalannya, mie tela mangkok. Mie yang bahan bakunya dari singkong itu, menawarkan keunikan rasa, tampilan sekaligus dampak dari setelah makan paling standar. Yaitu, mengenyangkan.

Mie ketela ditambah segelas es dawet, cukup layak direkomendasikan untuk warga perkotaan yang sudah menjadikan makanan pokok selain nasi. Terutama, lidah warga yang secara kultur, akrab dengan suasana perdesaan dan berbagai olahan singkong.

"Puasa ngrowot, bukan lagi kendala," kata Cak Sul, setelah menyantap mie tela mangkok di RM Mangkok yang terletak di jalan ZA Pagaralam, Bandarlampung, kemarin.

Mie dari singkong itu bahkan, menurut Cak Sul sudah hilang rasa singkongnya. Aroma langu serta semacam kenyal khas tanaman jenis ubi-ubian, sama sekali tidak terasa. Bagi perut yang belum familiar menjadikan mie sebagai makanan pokok, langsung akrab. Ditambah dengan mangkoknya yang bisa dimakan, taburan ayam cincang yang berbentuk seperti blondo atau ampas minyak kelapa, serasa ada nuansa lain ketika menyantapnya. "Mengingatkan kita pada suasana perdesaan," kata dia.

Lastri, salah satu pengunjung yang diwawancarai gajahlamtim.com menjelaskan, dirinya sering makan di RM Mangkok. "Sebenarnya tidak sering-sering, sih, cuma kalau lagi ingin saja, kalau lagi bosen makan nasi," ujar dia yang datang bersama pacarnya.

Mie yang mewah harga mahasiswa itu, jelas dia, jadi pilihan karena memang cocok di lidah dan di perutnya yang berasal dari Wayjepara, Lamtim. "Seperti makan geblek, tapi gimana ya, ini lebih nikmat," katanya.

Ditanya apa itu geblek, Lastri menyatakan, kue atau penganan dari singkong yang dilembutkan dan digoreng berbentuk kecil-kecil.  

Sementara Angga, anak muda yang mengaku sebagai mahasiswa Tekhnokra itu menyatakan, selain tempatnya di dekat kampus, mie mangkok pas di lidah. "Sayangnya, kursinya tidak nyaman kalau harus duduk lama dan untuk menyandar," ujar dia pada gajahlamtim.com.

Kursi dari perpaduan besi untuk sandaran dan plastik sebagai tempat duduk, memang tidak nyaman jika mesti berlama-lama dan menyandar untuk mengobrol. "Beda dengan Mie Naga di MBK yang kursinya dari busa," kata penggemar berbagai jenis masakan dari bahan mie itu.

Mie tela, lanjutnya, memberi efek lain setelah menyantapnya. "Rasa kenyangnya, pas di perut saya. Sambal kacangnya juga mantap. Oya, es dawetnya juga sangat segar," kata Angga.

Keluhan Angga yang menyatakan kursinya tidak nyaman untuk duduk berlama-lama, menurut salah satu pelayan yang enggan menyebut namanya. "Memang biar cepat, habis makan langsung cabut, selain tempatnya terbatas, parkirnya juga sempit," kata dia.

Sehingga, jelasnya, kursi di RM Mangkok memang didesain sedemikian rupa hanya nyaman untuk makan. "Bukan untuk ngobrol, apalagi pacaran," kata pegawai yang mengenakan hijab itu. (lis)