Mengembalikan Kejayaan Pangan yang Terpinggirkan

20 September 2017 00:46:38
Post

Bupati Lampung Timur Hj. Chusnunia Chalim, secara masif mulai membuat Gerakan Malu Menganggur (GMM) dan menghidupkan pasar untuk memberi wadah bagi semua potensi, terutama pangan. Khususnya, tepung mocaf yang sebenarnya pangan utama warga. Namun kini, sudah kalah dan terpinggirkan oleh dominasi tepung terigu yang bahan utamanya gandum impor.


GAJAHLAMTIM.COM- Ironi dan keprihatinan atas maraknya produk olahan dari bahan pangan impor saat ini yang mendominasi. Bukan hanya di perkotaan, bahkan masuk ke desa-desa, membuat pemerintah mulai berani mengambil kebijakan tegas, salah satunya terus menyosialisasikan pentingnya penggunaan mocaf sebagai ganti terigu. 

Pada berbagai olahan kue, warga yang memakai tepung terigu yang bahan dasarnya gandum. Bukan hasil bumi yang ada di sawah dan kebun warga. Mulai diganti dengan bahan baku mocaf. 

Hal ini mengemuka ketika sejumlah pengrajin mocaf asal Desa Brajaharjosari, Kecamatan Brajaselebah, Lampung Timur ikut pelatihan pembuatan olahan kue berbahan dasar mocaf di Hotel Green, Bandarlampung, 18-20 September 2017. "Mocaf asal Lamtim ini, terbukti ketika dipakai membuat kue, termasuk bolu, jauh lebih berkualitas," ujar Suhada pada gajahlamtim.com, Selasa, 19 September 2017 malam.


Suhada bersama enam orang rekannya, ikut dalam pelatihan pembuatan olahan pangan berbahan dasar mocaf menjelaskan, tepung yang diproduksi secara rumahan itu memang masih kalah jauh dibanding terigu. "Sebab, warga sendiri masih banyak yang asing dengan mocaf, orang taunya hanya tiwul," kata dia.

Padahal, lanjut dia, dengan mocaf yang bahan dasarnya singkong, bukan gandum yang mesti didapat dari impor itu, berbagai olahan pangan bisa diproduksi baik skala rumah tangga maupun secara massal. "Dibuat industri besar juga sebenarnya bisa, hanya kalau warga pasti terbentur dengan modal dan pemasaran," katanya.

Munawir, salah satu pengrajin mocaf juga menjelaskan, warga masih banyak yang belum sadar kalau terigu yang dikonsumsi itu berbahan gandum dan melalui proses kimiawi yang belum tentu sesuai dengan tubuh kita. Mestinya, secara ilmiah bahan dasar dari alam sekitar jauh lebih sehat jika pengelolaannya higienis. "Problem utama kami adalah pemasarannya, banyak warga yang biasa mengolah kue dengan bahan dasar terigu, belum berani beralih dengan mocaf, maka perlu sosialisasi yang lebih intensif dari pemerintah," ujar dia. 

Di Lampung Timur sendiri, mocaf produksi warga Desa Brajaharjosari sudah diakui kualitasnya. Bahkan bisa disebut, jauh lebih baik dibanding mocaf dari Lampung Tengah, Tuba Barat maupun Pesawaran. "Tadi disandingkan, kue dari mocaf kami jauh lebih baik dibanding daerah lain," kata Munawir yang diamini Suhada dan tiga temannya.

Sejarah Terigu Impor

Berawal dari uluran tangan Amerika Serikat (AS) melalui skema hibah dan pinjaman lunak untuk impor terigu, kini Indonesia perlahan menjadi salah satu negara importir gandum terbesar di dunia. Sebagaimana dilansir laman tirto.id, mulai tahun 1968, Presiden Soeharto memimpin sidang kabinet terbatas membahas persiapan kebutuhan sandang dan pangan jelang Lebaran. Sidang kabinet yang memutuskan, bahwa pemerintah akan mengimpor 390.000 ton terigu dari Amerika Serikat.

Keputusan itu menjadi catatan masa awal dimulainya impor terigu—produk turunan gandum, yang kemudian secara besar-besaran masuk Indonesia. Tujuan awalnya memang untuk stabilisasi harga. Semenjak 1970, tiga pabrik olahan biji gandum dibangun dan sekaligus menandai mulai berkurangnya bantuan dari AS. Impor terigu sudah bergeser menjadi gandum, bantuan AS pun perlahan berkurang. Impor gandum terus meningkat dari tahun ke tahun terutama dari AS.

Apa yang terjadi di awal Orde Baru menjadi tonggak penting bagaimana gandum yang semula bukan makanan pokok orang Indonesia, kini sudah jadi kebutuhan pangan yang penting. Tepung terigu sudah jadi bahan baku sejumlah produk makanan olahan populer antaralain mie instan, biskuit, kue, hingga jajanan gorengan.

Permintaan pasar yang tinggi terhadap mie instan secara langsung mendorong permintaan terhadap gandum. Padahal gandum bukan tanaman asli Indonesia. Gandum termasuk tanaman subtropis, sehingga ketergantungan impor pun tak bisa dihindari.

Laporan dari Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo) menunjukkan bahwa impor gandum dari Juli 2015 sampai Mei 2016 telah mencapai total 8,2 juta ton. Sedangkan sepanjang 2016 mencapai 8,71 juta ton. Impor gandum tahun ini ditaksir meningkat antara 5-6 persen hingga 8,79 juta ton.

Tantangan semacam ini bukan barang baru, beberapa peneliti di Indonesia mencoba menjawabnya, bahkan masyarakat sudah menerapkan penggunaan tepung pengganti terigu gandum. Misalnya, tepung tapioka dan tepung singkong (mocaf) yang sudah mulai digunakan sebagai bahan baku pembuatan mie lethek di Bantul, atau tepung beras, tepung pisang, tepung ubi ungu dan sorgum yang telah banyak digunakan dalam pembuatan roti serta gorengan di Indonesia.

(Baca: Nikmatinya Mie Singkong asal Lamtim di Bandarlampung)

Potensi Mocaf

Potensi singkong dan umbi-umbian lain sebagai pengganti tepung dari gandum bukan hanya imaji. Menurut International Center for Tropical Agriculture, Indonesia termasuk dari 2 negara penghasil singkong terbesar di Asia, setelah Nigeria dan Thailand. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2015, Indonesia menghasilkan lebih 21 juta ton singkong per tahun. Sebuah bahan baku yang melimpah untuk dimaksimalkan, dan tentunya perlu sentuhan inovasi terhadap produk tepung olahan singkong seperti mocaf (Modified Cassava Flour) yang belakangan namanya mulai dikenal di masyarakat.


Tepung mocaf adalah tepung singkong yang termodifikasi karena fermentasi bakteri asam laktat sehingga mengubah sifat tepung tersebut. Keistimewaan mocaf dapat mengembang seperti tepung terigu dengan kadar protein sedang. Berbagai penelitian menunjukkan bahan pangan di dalam negeri punya peluang menjadi pengganti tepung terigu. Masalahnya soal kemauan dunia usaha dan pemerintah, apakah mau mengakhiri "jebakan" impor gandum yang sudah bergulir sejak lima dekade silam. 

Peluang mocaf luar biasa besar. Apalagi pemerintah menetapkan kebijakan 10 persen saja terigu kita substitusi.

Bukan hanya perusahaan besar yang memanfaatkan mocaf. Banyak pula produsen penganan skala rumahan yang menggunakan mocaf sebagai pengganti terigu dan itu semua sudah dimulai oleh warga Desa Brajaharjosari. Meski masih minoritas, akan tetapi cukup menjejakkan langkah yang mantap untuk terus berkembang. Diungkapkan Suhada, misalnya, sejak 2010 dirinya sudah beralih sepenuhnya menggunakan tepung singkong modifikasi sebagai bahan baku kue. "Selain citarasa yang tak jauh berbeda dengan terigu, harga juga lebih murah," katanya.

Sejak diperkenalkan beberapa tahun lalu, industri mocaf memang tumbuh di berbagai daerah. Umumnya industri skala rumahan yang membangun sarana produksi di lahan kecil. Namun, hambatan untuk memproduksi tepung singkong modifikasi juga tak kalah besar. Salah satunya, pemasarannya. "Di rumah masih ada sekitar 2 ton tepung mocaf yang gak laku dah sudah kedaluwarsa," ucap dia.

Beruntung, berkat kreatifitas warga dan sinergisme dengan pemerintah yang punya even sampai 24 Festival sebagai kalender pariwisata Lampung Timur, mocaf yang sudah kedaluwarsa itu bisa dijadikan bubuk warna untuk memeriahkan acara. "Yang sudah diujicoba waktu Festival Kuliner di Metro Kibang, juga di Festival Danau Waybungur."

Termasuk Bupati Lampung Timur, Hj. Chusnunia ikut bermandi tepung mocaf dan bersama warga saling tabur menambah semarak dan kemeriahaan festival. 

Tingginya Permintaan Mocaf

Meski dikeluhkan para perajin mocaf skala rumahan di Lampung Timur, sebenarnya banyak daerah yang masih butuh pasokan mocaf. Dilansir majalah Trubus. Salah satu yang belum mampu memenuhi tingginya permintaan adalah Epi Saefuddin. Produsen di Sukabumi, Jawa Barat, itu kewalahan melayani permintaan rutin 20 ton sehari. Padahal, produksinya baru 2—3 ton sehari. Selama sepekan ia hanya libur pada Jumat, 6 hari lain tetap berproduksi. Biaya produksi Rp2.400 per kg dan dijual Rp5.000 per kg. Ia memasarkan mocaf ke pasar-pasar tradisional di Sukabumi dan Cianjur, keduanya di Jawa Barat.

Daryono setali tiga uang. Produsen tepung singkong modifikasi di Pati, Jawa Tengah, itu hanya sanggup memproduksi 160—200 ton sebulan. Permintaan? Sebuah produsen mie meminta pasokan rutin 1.000 ton sebulan. Begitu juga Soelaiman Budi Sunarto, produsen di Karanganyar, Jawa Tengah, sejak Oktober 2008. Volume produksi rata-rata 6 ton sebulan, sedangkan permintaan 3 produsen roti dan sebuah produsen martabak yang mengelola waralaba Grow Buck masing-masing mencapai 1 ton sepekan alias 16 ton sebulan.

Mengetahui prospek tepung mocaf, Bupati Lampung Timur yang akrab disapa Mba Nuni itu bahkan mengenalkan produk olahan warga tersebut sampai pasar dunia. Salah satunya ke Jerman dan Alzajair. Bahkan rombongan pengusaha dan pemerintah dari Aljazair sempat datang langsung ke Lampung Timur untuk menjajaki kerja sama. Beberapa hasil bumi Lampung Timur juga sudah siap ditampung negara timur tengah itu. Antara lain, pisang dan pepaya. (red)