Ini Jawaban Bupati Lamtim Pasca Meraih Gelar PhD

12 Oktober 2016 03:36:20
Post

GAJAHLAMTIM.COM-- Bupati Lampung Timur (Lamtim) Chusnunia Chalim merupakan kepala daerah perempuan pertama di Provinsi Lampung. Kehadirannya, banyak diharapkan warga untuk memberi sentuhan lain di daerah yang penuh stigma dan stereotip negatif tersebut. Banyak warga Lamtim, secara sukarela bergerak menyukseskan agar anggota DPR dua periode itu, mau turun membangun kampung halaman sebelum akhirnya berhasil terpilih jadi bupati dan dilantik pada 16 Februari 2016.

Selasa, 10 Oktober 2016 merupakan hari bahagia bagi Mba Nuni, sapaan akrab Bupati Lamtim. Di tengah padatnya aktivitas sebagai kepala daerah, membuka langsung kompetisi sepak bola di beberapa kecamatan demi memasyarakatkan olah raga dan mengolahragakan masyarakat Lamtim, menggelorakan semangat "Malu Menganggur" dan menyuarakan "Lamtim Memanggil". Mba Nuni, berhasil meraih gelar PhD. Study doktoral yang ditempuhnya sebelum terpilih jadi Bupati Lamtim pada Pilkada serentak Desember 2015 lalu. 

Proses menyelesaikan study doktoralnya tersebut, bukan perkara mudah. Rekam jejak perjuangannya untuk secara efektif dan efisien membagi waktu yang dihimpun tim redaksi gajahlamtim.com.  Berikut jawaban-jawabannya.

Sebagai pejabat publik, perempuan yang mengawali karier politiknya di Partai Kebangkitan Bangsa dan mengeluarkan tagline "berpolitik adalah ibadah dan berPKB adalah berkah" itu sempat mengeluh di medsos. "Pagi bersama atmosfer perjuangan untuk viva...sebab hidup adalah sejatinya sekolah. ....sekolah kehidupan. Dan baru merasakan susahnya ngurus izin ke Kemendagri utk pergi ke kampus 2 hari saja. ....suratnya hampir sebulan diurus tak jua keluar izinnya. ....dinikmati saja."

Semacam keluh kesah yang hanya bisa disampaikan lewat medsos dan tak banyak orang yang tahu alamat media yang dipakainya itu, diunggah bersama foto ketika dirinya memproses desertasinya pada 10 September 2016. Salah satu temannya, Amin berkomentar. "Hebat ibu Bupati ini, kuat kerja."

Penelusuran gajahlamtim.com juga menemukan semangatnya sebagai pembelajar yang berprinsip setiap tempat adalah sekolah. 


"Tadinya ada minat untuk makan pisang goreng dan minum teh tawar panas di lounge ...tapinya karena tertarik bukunya Pak Bakir ini, dan agak lapar baca, maka tak putusin "menunda menikmati pisgornya"...dengan budget yg miripan, pilihannya mengatasi "lapar" yg lebih terasa. Bukan karena saya tak punya uang beli pisgor, karena rasanya puas proses "pengorbanan" untuk mendapatkan sesuatu yg kita inginkan itu adalah kenikmatan tersendiri. ....saya ingin terus menghargai tiap detail nikmat Tuhan. ...alhamdulillah. Bismillah, boarding."

Itupun tak lepas dari komentar temannya, Musahadi, "Apa hubungannya antara Pisgor dengan Buku Politik dan Kekuasaan?" yang hanya dijawab dengan tawa. Hehehe.

Banjir pujian, rekam jejak kiprahnya Baca; Mba Nuni di Pentas Dunia tidak menyurutkan nuansa santri dalam jiwanya sebagai putri Kiai Khalim. Baca; Mba Nuni Ikut Mayoran.

Namun demikian ketika gajahlamtim.com berniat melakukan wawancara tentang proses perjuangan meraih gelar PhD dari Malaysia itu, dijawab singkat. "Tidak usah, cukup 75 persen hidup saya untuk melayani masyarakat. Sisanya untuk keluarga dan saudara-saudara saya."

Bersikap biasa saja dalam merespon berbagai pujian, tidak terlalu tinggi hati, bahkan tetap merendah dan membatasi diri untuk sekadar mengungkapkan syukur, membuktikan kelas dan kepribadian Bupati Lamtim, Chusnunia yang sejak kecil sudah digembleng dalam kultur dan kawah candradimuka yang bernama pondok pesantren.


Setelah dipaksa, Mba Nuni hanya merespon. "Bersyukur tiada terkira. Rasanya senyum enggan terlepas. Aku tak pernah berfikir kakiku sanggup menempuh langkah sejauh ini, sama sekali tidak. Hidup tidaklah garis linier yang tanpa lekukan, gambaran itu juga yang aku yakin semua manusia mengalami. Turbulensi dalam perjalanan hidup, susah senang, tangis dan tawa, semua ada. Kuyakini tak ada satu kisah pun hidup tanpa liku, tanpa persoalan, tanpa cabaran dan cobaan, tanpa perjuangan. Sejauh ini, begitu banyak ungkapan-ungkapan klasik yang rasanya seperti klise tetapi nyata, semisal semua perkara ada hikmahnya, atau misal menanam kebaikan pasti berbuah kebaikan, dan banyak lagi...entah apa yang hendak kutuliskan atas pinjaman kisah hidup yang begitu nikmat ini...dari sekian kisah yang terlewati, semuanya indah...jangankan yang manis, setelah kurasa betul kesimpulannya pahit pun, indah, getir pun indah...aku bersyukur berada pada senyum hari ini...hidup adalah perjalanan, hidup adalah pengembaraan, hidup adalah kumpulan kisah, hidup adalah perbuatan, hidupku adalah keputusan ...keputusanku untuk memilih tersenyum bahagia. Alhamdulillah."

Dulu, beberapa pejabat publik setelah menyelesaikan study pascasarjana dan ditempuh di Provinsi Lampung, iklannya banyak di media-media sebagai upaya pembentukan citra. Bahkan, tak jarang ucapan selamat juga diberikan oleh dan atas nama lembaga yang dekat dengannya, namun tagihan iklan itu dibayar menggunakan uang negara. Semoga Bupati Lamtim tidak mencontohnya. Tetaplah rendah hati dan bekerjalah, Tuhan dan orang-orang yang beriman yang akan menilainya.

Kesederhanaan, sama sekali tidak menurunkan martabat seseorang. Bahkan membuat kuatnya pribadi seseorang, apalagi pejabat publik. Mba Nuni adalah potret itu. Bahkan dirinya, dengan santai mengunggah delay pesawat yang sering membuat seseorang meradang dan marah. "Delay yo ora usah sambat. ...lah tikete regane ora sampe 200 ewu. ...hahaa. ..dikancani tum hi ho." Artinya, delay ya tidak perlu mengeluh. Harga tiketnya tidak sampai 200 ribu, haha... justru gembira ditemani lagu Tum Hi Ho.


Banyak orang termasuk saya yang sering bepergian, dengan mudah bisa mendapatkan tiker pesawat yang selalu mahal sebab jenis pesawat dan layanan penerbangannya jelas berbeda. Terlebih ketika leading dan hendak mendarat, tiket pesawat murah sering membuat ngeri. Penuh gonjangan. Namun karena tak mendapat tiket dan mesti buru-buru, pernah suatu ketika naik penerbangan murah dengan kursi di belakang. Tanpa sadar, di seat 28 D, ada perempuan sederhana pakai jilbab biasa saja, yang sepertinya kenal. Sebab penasaran, menunggunya turun dan benar, dia adalah Bupati Lamtim yang baru terpilih.

Perlu diketahui, jangankan seorang kepala daerah, level birokrat yang baru Kepala Seksi saja, di Provinsi Lampung jika bepergian menggunakan moda transportasi udara dipastikan pakai kelas bisnis dan penerbangan mahal. Ini di Lampung, dimana pernah terjadi insiden seorang pejabat yang akan pensiun naik pesawat mahal dan menampar petugas karena meminta indentitasnya. Ternyata di Lampung ini, masih ada bupati yang merasa enjoy menggunakan maskapai murah, sering diskon yang harganya sama dengan tiket Bus Damri. Masih ada yang tanpa embel-embel gelar "Cand DR" di depan namanya, tetapi lulus dan bergelar PhD yang ketika akan diliput media internal pun, merasa enggan demi menjaga diri dari sikap takabur.

Tahniah Mba Nuni, tetaplah mengabdi dengan hati sebagaimana pernah kau kidungkan di sini Nyanyian Jiwa.

Dimana proses membangun serta memajukan Lamtim masih banyak yang belum tergarab maksimal. Masih banyak pekerjaan yang mendesak dan berebut untuk lebih dahulu diselesaikan. “Kita harus memperbaiki semua. Bergotong-royong. Terutama membangun fisik dan mental spiritualnya," kata Bupati Lamtim itu dalam sambutannya ketika peringatan HUT Kemerdekaan ke-71 RI di Sukadana.  (tim redaksi)