Group yang Menyukseskan Festival Musik Kreatif 2017

11 September 2017 02:18:54
Post

GAJAHLAMTIM.COM-  Nama group musiknya, Sekar Jumengglung. Penampilan peserta Festival Musik Kreatif 2017 di Lapangan Pekalongan, Lampung Timur ini, cukup menyedot para pengunjung. Penonton seketika merangsek ke arah panggung utama ketika mereka tampil. Semua personilnya, sudah berusia lanjut. Jauh di atas para peserta lain dinilai dari sisi umur maupun kematangan menata musik. Akan tetapi, kakek-nenek dalam paguyuban Sekar Jumengglung ini, harus menerima kenyataan, group musiknya, kalah. Tidak menjadi juara.

Penampilan Paguyuban Sekar Jumengglung, bukan saja menjadi kebanggaan dan penanda atas suksesnya Festival Musik Kreatif 2017 yang baru pertama kali digelar di Lampung Timur ini. Bahkan, baru pertama ada di Provinsi Lampung. Lebih dari itu, penampilan mereka adalah bentuk ketauladanan berkhidmat dalam dunia seni budaya.

Mereka tampil penuh penghayatan dan tentu saja, menghibur. Bukan itu saja, penampilan kakek-nenek ini adalah bukti semangat perjuangan masyarakat. Sekaligus menunjukkan cermin gotong royong yang ada di Lampung Timur.

Bisa dibayangkan, kehadiran mereka bukan sebatas membawakan lagu "Bumi Tuwah Bepadan" ciptaan RA. Akbar yang bagian liriknya berbunyi; "Seni budaya warisan jamanho. Lestari dan selalu dijago. Masyarakat tentrem besahajo..." dimana bait kedua dari lagu wajib itu, benar-benar digambarkan Sekar Jumengglung dengan merasuk ke syairnya dengan sepenuh jiwa. Dibawakan penuh penghayatan seperti sedang melintasi ladang-ladang permai. Sampai mendongak dan beberapa kali memejamkan mata sambil menggeleng lembut.

Kehadiran kakek-nenek ini bahkan bisa dibilang, paling mahal dibanding peserta lain. Baik ketika dikalkulasi secara matrial maupun immatrial.

Pertama, mereka paling banyak membawa alat musik. Dari kendang, gambang, saron, ditambah dengan alat tumbuk padi atau lesung yang mesti diangkut pakai mobil truk dan diangkat oleh enam orang untuk dinaik turunkan dari panggung utama.

Kedua, jumlah personil paling banyak dibanding group musik lain.

Ketiga, paling kompak dan terlihat lama berlatih. Sebab, memadukan antara alat musik gamelan dengan lesung sebagai pengiring lagu "Bumi Tuwah Bepadan" bukan perkara mudah.

Keempat, semua pemain musik dan penyanyinya sudah berusia lanjut.

Kelima, mereka kalah dan tak dapat juara sama sekali. Namun diterima dengan tetap tersenyum. Tanpa beban dan mengaku tidak bakal kapok untuk tampil.

Salah satu Dewan Juri sendiri, mengakui, berusaha maksimal dan independen. Ia menjelaskan, justru beberapa keunggulan group Sekar Jumengglung menjadi kekurangannya dalam ajang Festival Musik Kreatif 2017. Yakni, alat musik yang dipakai melebihi batas maksimal yang sudah disepakati dalam technical meeting. Selain itu, durasi waktu yang maksimal 15 menit. Jauh dilampauinya.

Bahkan ketika pembawa acara mengingatkan, kakek nenek ini tak mempedulikannya. Beberapa penonton, berteriak. Lanjut. "Mereka tak mencari juara. Melainkan menikmati panggung," kata salah satu penonton.

Terbukti, lebih lama dan beberapa kali pembawa acara mengingatkan kalau waktunya sudah habis. Alih-alih mendengarkan, kakek-nenek ini justru asyik menari berputar-putar sembari bersorak. "Hoi..hoihoi..." ketika intro saat membawakan tembang "Caping Gunung".

Apa yang kemudian bisa kita pelajari dari penampilan group Sekar Jumengglung? Menurut catatan penulis. Antara lain, Festival Musik Kreatif 2017 adalah oase sekaligus tempat kehausan warga menemukan ajang bergengsi untuk kiprah seni budaya yang sudah digeluti dan nyaris punah.

Hal ini mengingatkan penulis pada proses Lomba Lesung yang digelar pada saat Festival Panen Padi awal bulan April 2017 lalu. Antusiasme peserta tidak sebanding dengan ruang dan waktu yang disediakan panitia. Di tengah keasyikan memadukan bebunyian dan tarian khas warga desa yang berprofesi sebagai petani, pembawa acara berulang kali menegaskan. "Waktu habis. Ya, waktunya sudah habis."

Sementara di sisi lain, jika kita melihat hadiah dan apresiasi yang diberikan bagi para juara, sama sekali tidak sebanding dengan ongkos yang dikeluarkan. Menariknya, mengapa kakek-nenek ini rela berpeluh ikut partisipasi? "Kami hanya butuh panggung dan ruang ekspresi. Menguri-uri budaya agar tak hilang dimakan zaman," demikian kurang lebih makna yang diungkapkan Buyad, penanggung jawab Paguyuban Sekar Jumengglung.

Dari sini, bisa kita lihat, semangat dan partisipasi masyarakat yang "terlibat" tidak bisa dianggap remeh. Terutama dalam proses memajukan pembangunan di semua lini. Khususnya, di bidang berkesenian.

Kehadiran Sekar Jumengglung menegaskan, merekalah yang sudah menyukseskan ajang bergengsi yang masuk kalender Pariwisata Lampung Timur 2017.

Ke depan, mungkin perlu waktu dan ruang yang lebih aspiratif, membuat kakek-nenek ini bebas berekspresi. Atawa bila perlu, dibuatkan even tersendiri.(*)


Oleh: Endri Kalianda

Penulis adalah Penonton Festival Musik Kreatif 2017